Sabtu, 02 April 2011

Alanda : Ibu, 10 tahun penjara, 10 Milyar

Tadi pagi, Rabu (9/2) tersebar blog seorang mahasiswi bernama Alanda Kariza di Twitter. Ada apa dengan blog ini? Isi dari blog ini membuat hati kita trenyuh dan membuat kita bertanya-tanya tentang makna keadilan di negara ini. Alanda mengisahkan tentang ketidakadilan yang dialami olehnya dan keluarganya. Ibunya seorang karyawan di Bank Century, kini sedang menghadapi tuntutan jaksa selama 10 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar, jauh lebih berat dari vonis yang dijatuhkan hakim kepada mafia pajak Gayus Tambunan dan pemilik Century yang menggangsir banknya sendiri, Robert Tantular.

Di dalam blognya, Alanda menceritakan bagaimana hidup keluarganya yang naik turun. Ayahnya sempat juga bekerja di Bank Century dan Alanda pun menulis buku untuk menambah penghasilan keluarga, namun ibunyalah yang menjadi tulang punggung keluarga. Alanda yang ingin membuat Ibunya bangga, harus hancur hatinya karena ibunya dijadikan tersangka dengan tuntutan penjara 10 tahun dan denda Rp 10 miliar. Padahal Gayus Tambunan, yang korupsi besar-besaran, hanya dituntut 7 tahun penjara dan denda hanya Rp 300 juta. Robert Tantular, malah hanya dituntut 8 tahun penjara.

Ibunya tidak pernah membatasi dirinya untuk melakukan sesuatu yang berguna. Alanda mengisahkan, “Atas nama Indonesia, saya dulu pergi ke forum Internasional Global Changemakers. Atas nama Indonesia, saya mengikuti summer course di Montana. Untuk Indonesia, saya memiliki ide dan mengajak teman-teman menyelenggarakan Indonesian Youth Conference 2010. Indonesia yang sama yang membiarkan ketidakadilan menggerogoti penduduknya. Indonesia yang sama yang membiarkan siapapun mengkambinghitamkan orang lain ketika berbuat kesalahan, selama ada uang. Indonesia yang sama yang menghancurkan mimpi-mimpi saya.”

“Saya mohon doanya buat Ibu, walau mungkin Anda tidak pernah mendengarnya. Ia berjasa besar buat saya, dan saya yakin, bagi banyak orang di luar san. Beliau membutuhkan doa, dukungan, dan bantuan dari banyak orang.” katanya di akhir-akhir blognya dan terakhir dia mengatakan, “I just want her to stay with me… instead of behind those scary bars. I just want her to witness everything that I will achieve in the future. I just want her to see my little sisters grow up, beautifully. I just want her to always be there around the dining table, and we’ll have dinner together. I just want her to cook again for the whole family on Sunday mornings. I just want her to let me drive for her when she has to go somewhere. I just want her to listen to my stories about my boyfriend, my friend, campus life, or silly little things. I just want her here… Here.”

Anda dapat langsung membaca curhatan hatinya yang berjudul “Ibu, 10 Tahun Penjara, 10 Milyar Rupiah” di blog pribadinya alandakariza.com

Bermain Dengan Ikan

Ini adalah kisah seorang anak laki-laki kecil yang ingin bermain dengan ikan peliharaannya. Anak ini mengulurkan tangannya ke dalam akuarium, menangkap ikan yang menggelapar-gelepar di tangannya dan ia menaruh ikan itu di lantai, tepat disampingnya. Lalu anak itu kembali bermain dengan mobil-mobilannya yang berserakan di lantai. Ia begitu asik main hingga lupa dengan ikannya yang ditaruhnya di lantai. Beberapa menit kemudian ia teringat akan ikannya itu, dan ketika ia berpalinga ia melihat ikan tersebut sudah tak bergerak bahkan ketika ia menyentuhnya. Dengan ketakutan, anak tersebut menghampiri ibunya sambil membawa ikan tersebut di tangannya.

Ketika si ibu melihat ikan tersebut, dengan cepat ia mengambilnya dan menaruhnya kembali di akuarium. Tetapi terlambat, ikan tersebut sudah mati dan mengapung di air. Anak tersebut melihat ikan tersebut sambil menangis. Ketika ibunya bertanya pada anak tersebut apa yang sudah terjadi dengan ikan itu, dengan lugu ia menjawab, “Ah, kami bermain bersama di lantai, waktu kulihat lagi ia sudah tidak bergerak lagi.”

Dengan menghibur, ibu itu menjelaskan, “Sayang, tidakkah kamu tahu bahwa ikan tidak bisa hidup di lantai? Tuhan menciptakan ikan untuk hidup di air.”

Demikian juga dengan manusia, kita diciptakan untuk hidup dalam sebuah lingkungan yang khusus. Jika kita keluar dari lingkungan itu, kita bisa saja mati. Tuhan menciptakan manusia untuk hidup dalam hadirat Tuhan, sama seperti waktu Adam dan Hawa masih berada di Taman Eden. Namun jika manusia keluar dari hadirat Tuhan itu atau hidup dalam dosa, manusia itu akan mati. Satu-satunya cara untuk bisa masuk kembali dalam lingkungan hadiran Tuhan adalah melalui Yesus Kristus, Dialah jalan kebenaran dan kehidupan.

Sumber : Adaptasi dari: Releasing Your Potential; Dr Myles Munroe; Immanuel

Suamiku Berubah, dari Pria sempurna menjadi monster (INSPIRASI DARI SEBUAH KISAH NYATA)

Telly Bee bertemu dengan calon suaminya Dani ketika masih kuliah. Mulai dari pacaran hingga tiga tahun awal pernikahan mereka, Dani adalah pria yang sempurna di matanya.

“Menurut penilaian saya dia sangat baik, sangat sopan, juga ramah.. bisa dikatakan sempurna..” demikian kesan Telly tentang Dani saat itu.

Hingga suatu hari ketika mereka pernikahan mereka masuk di tahun ketiga, Dani mulai menunjukkan siapa dirinya sebenarnya. Malam itu telah larut, dan Telly baru saja pulang dari sebuah acara keluarga. Telly menemukan bahwa Dani dan anak mereka telah tertidur pulas.

“Seperti biasa saya mencium anak-anak. Entah kenapa dia bangun, trus marah. Dia bilang, ‘Tolong jangan bangunin anak-anak.’ Saya bilang, ‘Saya cuma mencium pah, mereka kan anak saya sendiri kok ngga bisa..’”

Bantahan Telly tersebut membuat Dani merasa dirinya tidak dihargai. Hal tersebut membuatnya berang sehingga ia langsung menampar Telly. Ini adalah kali pertama Dani memukul Telly, ia menangis dan keluar dari kamar.

Seperti tersadar, Dani mengejar Telly yang lari keluar. Ia sadar bahwa apa yang dilakukannya salah, namun Dani mengaku tidak bisa mengendalikan emosinya.

“Memang yang saya lihat dalam kehidupan orangtua saya seperti itu dulu,” jelas Dani. “Papa itu dengan mama, bagi saya ngga harmonis lah.. Karena saya melihat langsung kalau papa itu orang yang otoriter. Apa yang terjadi di dalam rumah tangga orangtua saya, itu terjadi dalam kehidupan saya.”

Sikap kasar Dani benar-benar meledak-ledak dan tidak terkendali. Sekalipun istrinya sedang hamil, dan banyak tamu dirumahnya, ia tidak segan-segan menghajar Telly.

“Kebiasaan istri saya, kalau lihat kotor pengennya langsung dibersihin. Maksud saya, biarkan kami ngobrol dulu. Jangan nyapu dulu, nanti mereka tersinggung. Akhirnya ngga di dengar, sehingga muncullah marah.”

Dani seperti membabi buta memukuli Telly, bahkan ia tidak memperdulikan bahwa tindakannya bisa membuatnya kehilangan bayi yang dikandung istrinya. Beruntung ada seorang tetangga yang dengan berani menyelamatkan Telly.

“Saya sudah tahu itu ngga benar, tapi untuk mengendalikan diri itu saya ngga bisa,” ungkap Dani.

Tidak bisa melampiaskan amarahnya kepada Telly, anak-anakpun menjadi sasaran amarah Dani. Jika ia sedang marah, ia akan meraih apa saja yang ada didekatnya untuk memukuli anak-anaknya.

“Ada kejadian, dua anak saya sewaktu dipukul itu kupingnya sampai keluar darah,” jelas Telly sambil meneteskan air mata.

Kembali ke masa kecil Dani, ia ternyata juga sering mengalami pukulan yang bertubi-tubi dari ayah dan ibunya. Kesalahan kecil saja bisa berakhir dengan pukulan. Hal itulah yang ia terapkan kepada anak-anaknya.

“Sekalipun anak kami perempuan, saya sering pukul seperti itu dan saya pikir itu adalah hal yang wajar,” jelas Dani.

Hati Telly hancur melihat anak-anaknya juga harus menanggung penderitaan. Telly begitu putus asa, hingga ia berpikir bahwa kematian adalah jalan keluar terbaik untuknya. Tapi saat-saat kritis seperti itu, ada sebuah kekuatan lain yang melarangnya membuat keputusan yang bodoh itu. Ia pun hanya bisa berdoa dan mencurahkan semua isi hatinya kepada Tuhan. Ia jalani bertahun-tahun bersama Dani dengan tangisan dan air mata, namun ia bawa semuanya itu kepada Tuhan. Hingga suatu hari Tuhan menjawab doa-doa Telly, Tuhan membawa Dani ke sebuah pertemuan khusus pria.

“Hingga penyampaian firman tentang pemulihan hidup, dikatakan bahwa keterbukaan adalah awal sebuah pemulihan,” tutur Dani. “Sepanjang malam saya renungkan, namun saya belum ada kekuatan untuk mengaku pada istri saya. Ada sesuatu yang selama dua tahun ini mengganjal perasaan saya. Jadi kebenaran itu berkata bahwa saya harus berani menelanjangi ketidak benaran itu.”

Dengan membulatkan tekadnya, Dani meminta maaf pada Telly atas semua kekasaran yang dilakukannya kepadanya dan juga pada anak-anak. Bahkan sebuah rahasia yang selama ini Dani simpan, terkuak di hari itu, “Saya juga minta maaf atas perselingkuhan.”

Sakit, itu yang dirasakan Telly. Ia meminta waktu untuk bisa mengampuni Dani.

“Dampak emosional itu terjadi, jadi saya suka teriak-teriak menjerit sendiri. Sesuatu yang sebelumnya ngga pernah saya lakukan, jadi seperti itu,” kenang Telly. “Justru dari situ dia sendiri yang bilang, ‘Ayo, kamu dulu kuat, kamu dulu mampu. Kita benahi lagi keadaan yang sudah rusak.’”

Dengan kekuatan Tuhan, akhirnya Telly bisa mengampuni suaminya sepenuhnya. Sejak itu, berlahan-lahan namun pasti keluarga Dani dan Telly dipulihkan.

“Akhirnya saya bisa melihat tangan Tuhan yang begitu besar terjadi dalam kehidupan saya pribadi, dan kehidupan rumah tangga saya,” demikian Telly mengucap syukur penuh haru. “Akhirnya suami berubah dan menjadi seorang suami yang saya inginkan. Yesus itu pribadi yang luar biasa, yang tidak terkatakan.” (Kisah ini ditayangkan 22 Februari 2011 dalam acara Solusi di SCTV).

Sumber Kesaksian :

Telly Bee

I Love U Forever

Kalimat “I love you” adalah kalimat yang sangat universal, singkat tapi memiliki power yang sangat kuat. Hanya dengan mengucapkan kalimat ini, kita bisa membuat hati dari pasangan kita bergetar dan tiba-tiba ada perasaan yang sulit dilukiskan oleh ribuan kata-kata sekalipun memenuhi seluruh hatinya. Ketika orang tua berkata, “I love you” atau “Aku sayang kamu nak”, hal yang sama juga terjadi kepada mereka. Hati mereka mendapatkan ketentraman dan perlindungan yang sulit dilukiskan oleh pujangga hebat sekalipun.

Jadi, kalimat “I love you” adalah seperti tetesan air segar di musim kering, seperti harum bunga mawar di tengah kesesakan, seperti terang bulan purnama di tengah kegelapan. Semua orang rindu untuk mendapatkan hal ini.

Suami istri, apalagi yang baru menikah pasti mendengar dan mendapatkan kalimat ini hampir setiap saat. Orang tua yang baru mendapatkan bayi juga pasti membisikkan kalimat ini di telinga sang bayi berkali-kali sambil mencium gemas sang buah hati. Kalimat “I love you” sanggup membawa suasana kebahagiaan bagi segala usia.

Namun, pada saat rumah tangga mulai dihadang badai, perahu rumah tangga terombang-ambing di tengah samudera masalah, adakah kalimat “I love you” sesekali terdengar ? Ketika sang buah hati mulai pandai membantah, sang bayi yang dulu menggemaskan telah tumbuh menjadi anak yang lihai dalam melawan orang tua, pandai berbohong, juara dalam menjadi anak yang malas serta menghindar dari pekerjaan yang ditugaskan, adakah kalimat “I love you” ini tetap memiliki power ? Rasanya kalimat ini tiba-tiba hilang begitu saja seperti melarikan diri dari rumah tangga !!! Hilang tanpa meninggalkan jejaknya.

Untuk itu, alangkah baiknya jika setiap orang menambahkan satu kata lagi di belakang kalimat yang powerful ini menjadi “I LOVE YOU FOREVER” !!!. Karena kata FOREVER berarti selamanya kita akan mencintai orang tersebut. Selamanya sang suami akan mencintai istrinya sekalipun ada gunung masalah yang harus dilaluinya. Selamanya sang istri akan mencintai suaminya, sekalipun harus melewati lembah kekelaman yang sangat dalam. Selamanya orang tua akan mengasihi anak-anaknya sekalipun sang anak rasanya tidak tahu lagi cara berterima kasih kepada orang tuanya.

Kiranya kalimat “I LOVE YOU FOREVER” ini mampu membantu bahtera-bahtera keluarga yang sedang berjuang keras di tengah-tengah hantaman gelombang masalah dan tiupan angin badai yang sangat kencang. Sekalipun di tengah gelora masalah ucapan ini hilang terbawa badai, tetapi kalimat ini telah diukir dalam hati setiap kita oleh tangan Tuhan yang penuh kasih ... I LOVE YOU FOREVER !!!

Diambil dari kumpulan khotbah Ps. Edward & Ps. Levi Supit

Harga Sebuah mukjizat

Sally baru berumur 8 tahun ketika dia mendengar ayah dan ibunya berbicara tentang kakaknya Georgi. Kakaknya sakit keras dan mereka telah melakukan semuanya untuk menyelamatkan nyawanya. Hanya pengobatan yang sangat mahal yang dapat menolongnya sekarang tapi itu tidak mungkin karena kesulitan keuangan keluarga tersebut.

Sally mendengar ayahnya berkata, hanya mukjizat yang dapat menyelamatkan kakaknya. Sally masuk ke kamarnya dan mengambil celengan yang disimpannya, menjatuhkannya ke lantai dan menghitungnya dengan hati-hati. 3 kali dihitungnya hingga benar-benar yakin tidak salah menghitung jumlah uangnya. Dia memasukkan uang koin tersebut ke dalam saku sweaternya dan menyelinap meninggalkan rumahnya untuk menuju ke sebuah toko obat. Dengan penuh kesabaran, ditunggunya si apoteker yang tengah sibuk berbicara dengan seorang pria. Si apoteker tidak melihatnya karena dia begitu kecil. Hal itu membuat Sally bosan dan dia menghentak-hentakan kakinya ke lantai untuk membuat kebisingan. Si apoteker melongokkan kepalanya tapi juga tidak melihat si Sally kecil.

Akhirnya dia keluar dan menemui Sally. “Apa yang kau mau?” tanya si apoteker dengan keras. “Saya sedang berbicara dengan saudara saya.”

“Baik, saya ingin berbicara tentang kakak saya,” Sally menjawab dengan nada yang sama “Dia sakit, dan saya ingin membeli mukjizat.”

“Maaf, apa yang kamu katakan ?” kata si apoteker.

“Ayah saya berkata hanya mukjizat yang dapat menyelamatkan kakak saya, nah sekarang berapa harga mukjizat itu ?”

“Kami tidak menjual mukjizat di sini, anak kecil. Saya tidak dapat menolongmu.”

“Dengan, saya mempunyai uang untuk membelinya jadi katakan saja berapa harganya,” kata Sally dengan lantang.

Seorang pria berpakaian rapi duduk jongkok di hadapan Sally dan bertanya,”Mukjizat jenis apa yang dibutuhkan saudaramu?”

“Saya tidak tahu,” jawab Sally. Airmata mulai mengalir di pipinya “Yang saya tahu, dia benar-benar sakit dan ayah saya berkata hanya mujizat yang dapat menyembuhkannya.”

“Berapa banyak yang kau punya?” tanya pria itu. “Satu dollar 11 sen,” jawabnya dengan bangga. “Dan inilah semua uang yang saya punyai didunia ini.”

“Wah, suatu di luar logika,” senyum pria tadi 1 dollar 11 sen. Harga yang tepat untuk sebuah mukjizat.

Dia mengambil uang itu, lalu dengan tangan yang satunya membimbing tangan anak kecil itu sambil berkata,”Bawa aku ketempat kamu tinggal, aku ingin bertemu dengan kakak dan orangtuamu”.

Pria berpakaian rapi itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang spesialis bedah. Dia terharu pada perjuangan Sally kecil yang masih 8 tahun dalam mencari mujizat dengan uang celengannya. Dr. Carlton Armstrong merasa tergerak oleh belas kasihan untuk membantu operasi bedah dalam penyembuhan kakak Sally. Operasi berjalan sempurna dan Georgi, kakak Sally diselamatkan. Sebuah operasi yang luar biasa dan ajaib karena keluarga Sally tidak perlu mengeluarkan uang, selain tabungan Sally yang diberikan kepada dokter itu.

Sebuah kebijaksanaan bisa kita pelajari dari kisah nyata ini. Ketulusan dan kasih akan mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu mencari jalan keluar. Si Sally tidak punya uang yang cukup, tidak punya tenaga yang cukup, tetapi kasih yang tulus, itulah yang mendorong dia untuk menyusuri jalan dari rumahnya menuju ke toko obat dan berusaha keras mencari pertolongan. Ketulusan dan kasih memberi dorongan yang kuat untuk seseorang mencari jalan keluar. Bila kita ada masalah, biarlah kasih dan ketulusan yang memerintah hati kita, sehingga dengan bijaksana kita akan mencari jalan keluar.

Sumber : : Facebook Inspirasi Sukses Ir. Jarot Wijanarko

SISI LAIN KEHIDUPAN DALAM DOA

TUHAN, terima kasih untuk semua
Yang telah terjadi dalam dunia ini
Baik dunia di luar diriku, alam semesta,
Sesama maupun dunia di dalam diriku
Pikiran, perasaan, kebutuhan dan iman
Untuk kebahagiaan dan penderitaan
Untuk keindahan alam dan bencana alam
Untuk kelahiran dan kematian
Untuk terangnya siang dan gelapnya malam
Untuk mereka yang menyukaiku
Dan juga untuk mereka yang tidak menyukaiku
Untuk kemudahan yang tersedia
Dan untuk tantangan yang menghadang
Untuk keberhasilan dan kegagalan

Terima kasih untuk kesempatan
Bahwa aku boleh mengalami semua ini
Terutama untuk kesadaran
Akan semua pengalaman itu
Terlebih lagi untuk penemuan makna
Bahwa Engkau selalu hadir
Dalam semua pengalaman itu
Sekalipun pada saat-saat tertentu
Aku tidak memahami rencana-Mu
Sehingga aku sulit untuk
Menerima pengalaman itu apa adanya

Sekalipun demikian
Aku ingin selalu berusaha
Membuka diri dalam memahami rencana-Mu
Dan kesulitan menjadi begitu memuncak
Pada saat aku tidak punya kesediaan untuk
Mengakui keterbatasan manusiawiku
Khususnya dalam memahami rencana-Mu
Untuk diriku dan untuk dunia ini

Dalam keadaan dunia seperti saat ini
Aku tetap ingin berusaha terus untuk meyakini
Bahwa Engkau selalu hadir
Dan yang Engkau inginkan adalah
Kedamaian bagi alam semesta ini
Dan kebahagiaan bagi setiap
Dan seluruh umat manusia, AMIN

- Anthony de Mello

Selasa, 08 Maret 2011

Lie Mei ``INSPIRASI DARI SEBUAH KISAH NYATA``

Seorang janda miskin Siu Lan punya anak umur 7 tahun bernama Lie Mei. Kemiskinan membuat Lie Mei harus membantu ibunya berjual kue di pasar, karena miskin Lie Mei tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya. Pada suatu musim dingin saat selesai bikin kue, Siu Lan melihat keranjang kuenya sudah rusak dan Siu Lan berpesan pada Lie Mei untuk menunggu di rumah karena ia akan membeli keranjang baru.


Saat pulang Siu Lan tidak menemukan Lie Mei di rumah. Siu Lan langsung sangat marah. Putrinya benar-benar tidak tahu diri, hidup susah tapi masih juga pergi main-main, padahal tadi sudah dipesan agar menunggu rumah.

Akhirnya Siu Lan pergi sendiri menjual kue dan sebagai hukuman pintu rumahnya dikunci dari luar agar Lie Mei tidak dapat masuk. Putrinya mesti diberi pelajaran, pikirnya geram. Sepulang dari jual kue Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak di depan pintu.

Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa. Jeritan Siu Lan memecah kebekuan salju saat itu. Ia menangis meraung-raung, tetapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera Siu Lan membopong Lie Mei masuk ke rumah. Siu Lan mengguncang-guncang tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei.

Tiba-tiba sebuah bingkisan kecil jatuh dari tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu dan membuka isinya. Isinya sebuah biskuit kecil yang dibungkus kertas usang dan tulisan kecil yang ada dikertas adalah tulisan Lie Mei yang berantakan tapi dapat dibaca, "Mama pasti lupa, ini hari istimewa bagi mama, aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah, uangku tidak cukup untuk membeli biskuit yang besar... Mama selamat ulang tahun."

Kisah nyata ini dimuat di harian Xia Wen Pao tahun 2007